Skip to content

Diskusi Ulang Tahun Ke-44 : GAPADRI Menatap Masa Depan

Simulasi materi navigasi darat Diklatsar GAPADRI Mapala ITNY. Foto : Dok. GAPADRI

GAPADRI MAPALA Institut Teknologi Nasional Yogyakarta telah memasuki usianya yang ke-44. Meski semakin eksis di dunia kepecintaalaman, namun tak bisa dipungkiri masih ada banyak hal yang dianggap belum optimal. Beberapa hal juga membutuhkan pembaharuan untuk mengikuti perkembangan jaman. Hal-hal ini mengemuka dari diskusi daring yang diadakan dalam rangka perayaan ulang tahun GAPADRI ke-44 pada Rabu, 20 Mei 2020, sebagai buah kesadaran anggota dalam mengikuti perkembangan dan dinamika perjalanan organisasi. 

Diskusi daring perayaan ulang tahun GAPADRI yang ke-44 yang diawali dengan kilas balik sejarah perjalanan organisasi dari awal hingga waktu beberapa tahun belakangan, kemudian diikuti dengan instrospeksi terhadap beberapa hal yang kemudian menjadi pokok-pokok bahasan untuk perbaikan GAPADRI di masa yang akan datang.

Beberapa poin yang disampaikan dan dianggap cukup penting dalam mempengaruhi perkembangan organisasi adalah terkait sistem pendidikan, sistem regenerasi kepengurusan organisasi, kendala waktu pelaksanaan kegiatan, perintisan desa-desa binaan sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat dan gagasan untuk mendirikan sebuah wadah bagi para alumni ITNY anggota GAPADRI agar dapat terus memberikan kontribusi bagi perkembangan organisasi.

Pokok-pokok pembahasan yang dapat disimpulkan dari diskusi daring tersebut di antaranya :

Sistem Pendidikan

Sistem pendidikan GAPADRI memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap regenerasi anggota, hal ini dikarenakan sistem pendidikan menjadi salah satu instrumen dalam perubahan jenjang keanggotaan sebagai persyaratan regenerasi organisasi. Dalam beberapa tahun belakangan sistem pendidikan dianggap memakan waktu yang cukup lama, sehingga sistem pendidikan dirasa perlu untuk dirampingkan. 

Perampingan sistem pendidikan diharapkan bisa mengefisienkan proses regenerasi dan sistem kerja kepengurusan tanpa mengurangi esensi dan eksistensi setiap jenjang keilmuan yang ada. Sistem pendidikan dengan proses yang begitu panjang selama ini cukup menyita waktu kerja dan fokus kepengurusan dalam porsi cukup besar.

Pembaruan terhadap sistem pendidikan juga perlu dilakuakn dengan upgrading muatan pendidikan. Selama ini pendidikan dilakukan dengan tujuan mencapai standar pendidikan yang dibuat, kedepan kegiatan pendidikan perlu dibentuk menjadi salah satu rangkaian kegiatan sebagai tahap penerapan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu penelitian pengembangan, pendidikan dan pengajaran, dan pengabdian kepada masyarakat. 

Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan tinggi di kampus, bentuk pendidikan GAPADRI dirupakan dalam bentuk kegiatan petualangan yang manfaatnya tidak lagi hanya untuk organisasi dan anggota-anggotanya tetapi juga bagi kalangan yang lebih luas.

Berikutnya yang perlu dilakukan adalah pengukuhan dan pengakuan atas pendidikan yang telah dijalankan oleh anggota. Setiap anggota yang telah menempuh pendidikan resmi di GAPADRI diharapkan dapat memperoleh predikat sebagai sumber daya manusia yang qualified sesuai standar tertentudalam dunia kerja sesuai bidang keilmuannya. Ini bertujuan agar perjalanan dan ilmu yang telah didapat di organisasi mendapat pengakuan resmi dan pada akhirnya dapat digunakan setelah menyelesaikan pendidikan di bangku kuliah.

Regenerasi Kepengurusan

Pengurus organisasi seumpama nahkoda kapal yang mengarahkan jalannya organisasi. Dalam beberapa tahun terakhir regenerasi kepengurusan dirasa mengalami kemunduran. Sebagai contoh adalah status pengurus yang kerapkali berada pada masa-masa akhir perkuliahan. Secara individu hal ini mungkin dirasa menjadi tanggung jawab dan beban moral pribadi, namun hal ini juga berpengaruh pada jalannya roda kepengurusan. Pengurus yang telah memasuki masa-masa akhir perkuliahan memiliki keterbatasan waktu dalam menjalankan tugasnya seiring berakhirnya masa perkuliahan dan hilangnya status kemahasiswaan. 

Ketika pemimpin atau organ pengurus terpaksa meninggalkan posisi jabatannya, maka terjadi perubahan tatanan kepengurusan yang tak jarang mengubah beberapa kinerja kepengurusan. Dalam AD/ART GAPADRI terdapat persyaratan administrasi untuk menduduki jabatan pengurus, salah satunya terkait dengan jenjang keanggotaan yang ditempuh melalui sistem pendidikan. Lambatnya regenerasi kepengurusan  diindikasikan akibat dari panjangnya sistem pendidikan yang diterapkan.

Dalam menjalankan program kerja kepengurusan, program kerja yang dianggap penting dan berkualitas bagi eksistensi organisasi hendaknya memiliki keberlanjutan. Belakangan, beberapa program terputus dalam pelaksanaannya, di mana program tersebut seharusnya dapat dilanjutkan, bahkan jika perlu disertai pembaharuan sehingga bisa saling terintegrasi dengan program kepengurusan sebelumnya.

Dari sini muncul harapan bahwa dalam masa yang akan datang, kepengurusan  mampu meningkatkan lagi program-program kerja yang memiliki dampak yang cukup besar untuk peningkatan kualitas organisasi dan anggota-anggotanya.

Waktu Pelaksanaan Kegiatan

Aktivitas perkuliahan di kampus saat ini semakin meningkat dan padat. Jadwal perkuliahan berlangsung selama lima hari (Senin-Jumat), pada akhir pekan dosen sering memberikan kelas-kelas tambahan untuk praktikum. Jadwal praktikum ini  sangat intens bagi mahasiswa semester awal hingga semester pertengahan (semester 2-5). 

Di lain sisi, kegiatan GAPADRI sering mengambil waktu di akhir pekan. Anggota-anggota MAPALA yang menempuh semester 2-5 sering kesulitan membagi waktu antara untuk kegiatan kuliah, mapala maupun untuk kegiatan yang lain. Hal ini membutuhkan solusi agar dapat mensiasati waktu guna menyeimbangkan aktivitas akademik dengan kegiatan organisasi.

Peran Dewan Pengurus dan Dewan Tinggi Anggota sangat dibutuhkan untuk mencari solusi melalui berbagai pendekatan baik kepada jurusan mapun biro akademik kampus.

Desa-Desa Binaan

Pengabdian masyarakat yang dilakukan anggota GAPADRI dituangkan dalam berbagai bentuk kegiatan sesuai dengan bidang keilmuan yang dipelajari di organisasi dan kebutuhan masyarakat. Pengabdian masyarakat beberapa dilakukan secara periodik yang melahirkan beberapa desa yang dianggap sebagai desa binaan GAPADRI. Sejauh ini terdapat tiga desa yang telah menjadi wadah anggota melakukan pengabdian secara berkala yakni Desa Ngagrong, Kecamatan Ampel ,Kabupaten Boyolali Jawa Tengah, Desa Gendayakan, Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri, Jawa tengah dan satu desa lagi di lereng Gunung Merbabu yang lama tidak dikunjungi.

Desa Ngagrong pertama kali didatangi tahun 1999 ketika GAPADRI membuka jalur pendakian. Di desa ini anggota GAPADRI pernah membangun sarana MCK Umum. Namun beberapa waktu belakangan hubungan antara GAPADRI dan masyarakat Desa Ngagrong mengalami kemunduran. Di masa mendatang, diharapkan GAPADRI dapat menghidupkan kembali dan memperkuat kerjasama dengan Desa Ngangrong yang sudah lama menjadi bagian dari keluarga besar GAPADRI baik melalui program kerja maupun hal-hal lain yang memberikan manfaat.

Desa Gendayakan adalah Desa yang mulai diperhatikan oleh GAPADRI akhir tahun 2019. Berangkat dari upaya membantu eksplorasi goa untuk pencarian dan pengangkatan air sungai bawah tanah. Kini masyarakat Desa Gendayakan sudah merasakan hasil kerja keras GAPADRI. Di masa yang akan datang, diharapkan GAPADRI dapat terus menjadi partner desa dalam pengembangannya mengingat kompleksnya permasalahan yang terjadi di desa ini dan membutuhkan bantuan dari berbagai pihak. 

Desa lainnya adalah desa yang berada di lereng Gunung Merbabu (sedang dalam pencarian data lengkap letak administratif desa). Dari cerita para pendahulu, desa ini menjadi binaan GAPADRI pertama yang menjadi tempat pengabdian para perintis GAPADRI. Kepengurusan saat ini diharapkan dapat menelusuri kembali sejarah serta kembali memperhatikan desa tersebut sesuai kebutuhan masyarakat.

Ketiga Desa Binaan ini, di masa mendatang diharapkan menjadi bagian alternatif sebagai wadah organisasi untuk menerapkan ilmu-ilmu yang telah didapatkan tanpa menutup diri bagi tempat-tempat baru yang membutuhkan.

Gagasan Membentuk Yayasan Alumni GAPADRI

Perjalanan GAPADRI tidak terlepas dari partisipasi dan dukungan alumni-alumni yang telah menyelesaikan perkuliahannya. Partisipasi yang diberikan secara langsung maupun tidak langsung berupa dukungan moral maupun material senantiasa dilakukan. Pada usia ke-44 tahun muncul gagasan untuk membentuk sebuah wadah yang dapat menampung para alumni untuk mendukung eksistensi dan perkembangan organisasi GAPADRI. 

Wadah yang dibentuk dapat berupa lembaga maupun yayasan yang secara formal mendapat pengakuan atas eksistensinya. Hal ini juga dianggap perlu untuk mendukung para anggota yang baru saja menyelesaikan pendidikan di bangku kuliah sebagai batu loncatan menuju lapangan kerja yang sesungguhnya.

Di samping itu, untuk menampung karya-karya anggota maupun alumni telah dibuat sebuah website bernama gapadri.id untuk menuangkan karya-karya maupun informasi yang dianggap perlu untuk dibagikan baik bagi internal anggota maupun khalayak umum.

Sebenarnya masih ada hal yang belum sempat didiskusikan untuk mencapai perkembangan organisasi kearah yang lebih, salah satunya adalah kendala keterbatasan alat yang sering di alami saat kegiatan hendak dijalankan. Dibutuhkan diskusi lebih lanjut dan lebih serius guna mencapai hasil yang diharapkan.

(Editor : Abe)