Skip to content

Berkreasi Dan Mandiri Melawan Covid-19

Masyarakat mengambil produk hand sanitizer dan disinfektan produksi Tim Bakti Negeri Lawan Covid-19 Yogyakarta (foto arsip : Tim Bakti Negeri Lawan Covid-19)

Yogyakarta, gapadri.id – Badai pandemi Covid-19 yang menghantam dunia menyebabkan langit kota-kota besar dunia yang selalu tertutup kabut polusi banyak yang menampakkan warna aslinya, biru. Melansir dari pemberitaan CNN (09/04/20), masyarakat Punjab untuk pertama kalinya dalam 30 tahun bisa melihat gunung Himalaya dengan mata telanjang dari jarak 100 mil (160 km) setelah polusi udara turun drastis di seluruh India.

Tidak hanya menurunkan polusi udara secara signifikan di seluruh dunia, Covid-19 juga mengubah perilaku hidup manusia, pola hidup higienis dan steril yang ketat. Akibatnya hand sanitizer dan disinfektan diburu masyarakat dan menjadi langka pasaran. Beberapa unsur masyarakat pun tergerak untuk membuat hand sanitizer dan disinfektan sendiri, selain dibagikan gratis ke pihak yang membutuhkan juga sebagai aksi nyata membantu pemerintah melawan ancaman Covid-19.

Immanuel Sigarlaki, seorang relawan Tim Bakti Negeri Lawan Covid-19 Yogyakarta mengatakan bahwa hand sanitizer dan disinfektan merupakan hal yang paling dekat dengan masyarakat dalam pencegahan Covid-19. Masyarakat bisa melakukan pengamanan secara mudah baik terhadap barang pribadi maupun aset komunal dengan cara menyemprotkan hand sanitizer atau disinfektan. “Masyarakat bisa melakukan pencegahan penularan Covid-19 dengan menginisiasi penyemprotan disinfektan di wilayah mereka masing-masing, tentunya dengan bersinergi dengan otoritas di wilayah setempat dan memenuhi standar keamaanan yang dianjurkan (otoritas kesehatan)”, tutur Immanuel yang juga merupakan pengurus SAR Daerah Istimewa Yogyakarta ini melalui pesan tertulis kepada gapadri.id, Senin, 04/05/2020.

Laki-laki yang akrab dipanggil Noel ini menjelaskan sebenarnya pembuatan hand sanitizer dan disinfektan cukup mudah, bahan-bahan yang digunakan pun harganya cukup terjangkau dan mudah didapat. Bahan yang dibutuhkan untuk membuat 150 liter disinfektan adalah : air layak minum (150 liter), Wipol (780 ml) dan garam grosok (2kg). Sedangkan untuk membuat 50 liter hand sanitizer bahan-bahan yang dibutuhkan antara lain : alkohol 70% ( 3 liter), Sunlight (500 ml), Garam/NaCl (2kg) dan air layak minum (50 ml). “Proses pembuatannya cukup mudah dan singkat, masing-masing bahan baku dicampur dengan cara injeksi agar tetap steril, kemudian diaduk agar masing-masing konsentrat tercampur dengan baik. Lalu didiamkan selama 24 jam dan siap dikemas untuk didistribusikan”, jelas Noel.

Tim Bakti Negeri Lawan Covid-19 Yogyakarta telah memproduksi disinfektan sebanyak 3000 liter dan hand sanitizer sebanyak 1000 liter. Kedua produk tersebut disalurkan untuk memenuhi permohonan dari puskesmas-puskesmas di DIY dan Jateng, juga dibagikan secara gratis ke masyarakat. Untuk memproduksi hand sanitizer dan disinfektan, Tim Bakti Negeri Lawan Covid-19 Yogyakarta mengaktifkan semua jaringan yang mereka miliki di Yogyakarta, dari pengusaha kelontong, distributor maupun masyarakat pemilik sumber-sumber air layak minum.

Biaya produksi ditanggung secara patungan oleh anggota tim dan beberapa kelompok masyarakat. “Semangat bersinergi dari level atas hingga level bawah sangat terasa dalam kegiatan ini, beberapa kelompok masyarakat bantingan biaya dan tenaga, kami berharap masyarakat mau berperan aktif menjaga wilayahnya agar tetap steril dengan melakukan penyemprotan secara berkala untuk melawan Covid-19, agar perekonomian lokal dapat terus berjalan tanpa harus melanggar anjuran pemerintah”, pungkas Noel.